Perihal Kekasih Hati
February 26, 2015 § Leave a comment
Halo Tiwi!
Bagaimanakah kabarmu hari ini? Apakah harimu menyenangkan? Semoga senang ya.
Eh, saya belum memperkenalkan diri ya? Hahaha. Maaf.
Kalau begitu kita mulai dari awal lagi.
Halo Tiwi! Saya Adri, salam kenal. Saya membaca surat yang kamu tujukan pada Teh Upi. Begitu kan kamu memanggilnya? Teh Upi. Wah, panggilan akrab yang manis.
Bagaimanakah kabarnya hari ini? Apakah kalian semakin akrab? Apakah ada pengalaman baru yang kalian alami? Dari surat yang kamu tulis, sepertinya hubungan kalian mengasyikan sekali. Pasti senang ya punya kakak yang sebaik Teh Upi, semoga kalian selalu akrab.
Bagaimana, suratmu sudah dibalas Teh Upi belum? Jika belum, izinkan saya membalas suratmu. Barangkali itu bisa mengurangi kegundahanmu dengan status single-mu itu. Atau malah sekarang sudah tidak single lagi? Barangkali Tiwi sudah ada yang mengkhitbah kan saya tidak tahu.
Saya baca di suratmu, bahwa kamu menunggu balasan darinya yang bisa membuatmu percaya bahwa label “jomblo dari lahir” itu bukan suatu yang menakutkan. Lho, memangnya jomblo dari lahir semenakutkan apa? Itu hanya label, Tiwi. Bukan monster pemakan gadis-gadis yang tak berpacar. Kamu ini ada-ada saja.
Lagi pula, label yang disematkan pada manusia, tidak akan menjadikanmu seburuk label yang orang sematkan kepadamu. Kamu bukan sayur di supermarket, yang jika kamu dilabeli non-organik, maka selamanya kamu tidak akan bisa jadi organik. Kalau kamu, katakanlah jomblo, toh suatu hari akan datang pangeran yang menjemputmu. Mungkin bukan pangeran berkuda putih, bisa saja pangeran bermotor supra. Yang penting tetap pangeran.
Selain itu single bukanlah suatu hal yang buruk. Tanpa pacar atau suami, kamu bisa bebas melakukan banyak hal tanpa ada batasan dari pasanganmu. Selain itu, waktu yang bisa kamu habiskan untuk membahagiakannya, bisa kamu gunakan untuk membahagiakan dirimu dan orang-orang lain yang kamu cintai.
Eh, Tiwi. Saya baca location di twittermu, di sana disebutkan kamu OTW to Japan. Waspadalah Tiwi! Barangkali calon suamimu berkeliaran di sana. Bisa saja dia bersembunyi di antara penumpang kereta yang kamu tumpangi. Siapa tahu kan?
Tiwi, sebelumnya saya minta maaf. Saya sendiri bukan orang yang percaya konsep jodoh, tapi saya yakin, suatu hari kamu akan menemukan seseorang yang tepat untukmu. Saya percaya, ada jutaan orang yang cocok untuk jadi pasangan hidup kita. Kalau kamu mau membuka hati, pasti ada saja lelaki baik yang mau meminangmu.
Tadi saya bilang, mungkin bukan pangeran berkuda putih, bisa saja pangeran bermotor supra, atau malah bermobil fortuner. Dia bisa saja tidak sesempurna yang kamu harapkan, tapi dia bisa jadi orang terbaik yang pantas bersanding denganmu.
Kuncinya cuma satu, Tiwi. Jadi dirimu sendiri. Jadilah versi terbaik dari diri Tiwi. Jangan menjadi orang lain atau berusaha memenuhi kriteria orang lain jika memang itu bukan dirimu. Jadilah dirimu sendiri, tapi versi dirimu yang terbaik.
Kalau kamu sudah menjadi dirimu yang terbaik, kamu pasti akan menemukan lelaki yang terbaik pula. Namun jangan lupa, tetap jadi diri sendiri. Sebab kamu tidak mau kan seumur hidup menjadi orang lain? Biarkan lelaki itu tertarik pada Tiwi yang Tiwi. Bukan Tiwi yang menyamar jadi orang lain.
Saya memang tidak mengenalmu, tapi saya merasa kamu adalah orang yang jujur. Tetap seperti itu ya Tiwi. Tetap menjadi dirimu sendiri. Kalau kamu tetap jujur, suatu hari kamu akan menemukan lelaki impianmu. Penantianmu tidak akan sia-sia.
Nah, segitu saja dari saya. Maaf saya dengan lancang tiba-tiba memberi saran ini itu. Saya hanya begitu senang melihat saudara ketemu gede yang begitu akrab seperti kalian.
Maaf jika ada kata-kata yang menyinggungmu. Semoga besok jadi hari yang menyenangkan, ya Tiwi. Jangan lupa tersenyum!
Salam untuk Teh Upi.
Leave a Reply