Supernova: Partikel

April 1, 2020 § Leave a comment

(halaman 161)

Seharian itu, aku membuntuti Pak Kas kemana-mana seperti aku membuntuti Ayah dulu. Setiap ada waktu luang saat ia tidak memotret, itulah waktuku belajar.

Pak Kas bercerita tentang cahaya. Bagaimana memotret itu sesungguhnya adalah ilmu tentang cahaya, tepatnya pencahayaan. Jika seseorang menguasai pencahayaan, ia akan menguasai fotografi.

“Kamu harus peka lihat arah cahaya itu ke mana dan bagaimana. Jangan jidat orang kamu tegak luruskan dengan sinar matahari, nanti mukanya belang-belang. Jangan suruh menentang matahari, nanti matanya nyureng. Jelek. Kalau matahari sudah terlampau tinggi dan kuat, cari tempat yang agak teduh biar fotomu ndak terlampau kontras. Bagusan ya matahari jam segini. Sore-sore atau pagi-pagi, atau waktu langit berawan.”

Kemudian, Pak Kas bercerita tentang komposisi.

“Di sini, tukang foto Polaroid ndak cuma satu. Ada banyak. Tapi kamu boleh adu, mana fotonya yang paling enak, pasti hasil fotoku,” ia terkekeh, gigi emasnya berkilau. “Orang tuh banyak yang ndak ngerti, kalau motret haruuus… saja objeknya di tengah-tengah. Padahal itu ndak bagus. Mata kita ndak suka lihatnya. Kamu harus geser sedikit. Ini, bandingkan,” ia lalu memotretku tanpa aba-aba. Dua kali.

Dua lembar foto Polaroid itu lalu kami pelajari. “Nah, ini yang paling umum dilakukan orang-orang. Aku bikin kamu di tengah-tengah. Bandingkan dengan yang ini,” katanya sambil menunjuk foto kedua, “kamu ndak di tengah, tapi kira-kira di sepertiga bidang foto. Lebih bagus, kan? Itu karena mata kita secara alami menyukai komposisi sepertiga begini.”

Di kesempatan lain ia bercerita tentang ilmu dasar menguasai kamera. Dengan menggunakan sebatang ranting, ia gambarlah segitiga di atas tanah.

“Hasil fotomu ditentukan oleh tiga hal ini, Nduk,” ia menunjuk segitiganya. “ASA (ISO) film-mu, diafragma (aperture) dan kecepatan lensa kameramu (shutter speed). Hasil keseimbangan tiga hal ini namanya exposure. Kalau tiga hal tadi pas, maka exposure-mu seimbang. Fotonya pasti bagus dan jelas. Kadang orang sengaja pengin lebih terang, berarti buatlah proporsi segitiga yang menghasilkan exposure yang tinggi. Kadang orang sengaja cari hasil foto yang gelap remang-remang, ya, buatlah proporsi yang menghasilkan exposure rendah. Tiga inilah yang bisa kamu mainkan. Kalau fotonya terlampau terang atau terlampau gelap? Berarti ada yang salah di ketiga hal ini.”

Pak Kas kemudian menjelaskan tentang ruang tajam foto. “Kalau kamera Polaroid begini hasilnya, ya, rata saja. Tapi dengan kameramu, kamu bisa punya ruang tajam. Tergantung jenis lensa yang kamu pakai. Punyamu itu 50 milimeter f/1.4, berarti maksimal kamu bisa setel diafragma kameramu di 1.4. Itu bagus. Makin kecil angka f-nya, kamu bisa motret di tempat yang kurang cahaya. Dan kamu punya ruang tajam yang lebih leluasa.”

“Maksudnya ‘ruang tajam’ itu apa Pak?”

“Ini lho, anu, waduh, gimana jelaskannya, ya?” Pak Kas kebingungan sendiri, ia lalu berjongkok di depan semak kembang sepatu kuning. “Jadi, misalnya aku mau motret bunga kuning ini, nah, yang keliatan jelas bunga satu ini saja, yang belakangnya kabur-kabur butek, begitu. Itu artinya, lensa yang kamu pakai sanggup mengejar fokus yang tipis. Objek kamu jadi seolah-olah nongol sendiri. Kalau semua objek jelas, itu sebaliknya. Ruang tajamnya tebal, makanya fokusnya jadi rata. Ya kembang, ya daun, ya pohon di belakangnya, sama-sama jelas.”

Aku mengangguk. Pura-pura mengerti.

“Selain ganti-ganti setelan diafragma, kamu bisa atur ruang tajam fotomu menggunakan sebuah alat bernama ka…?” Pak Kas menanti jawabanku. Dan aku hanya bengong.

“Kaki!” serunya. “Maju atau mundur. Begitu lho, Nduk. Lensamu itu lensa fixed namanya. Jadi kamu harus atur jarakmu sendiri. Kalau lensa zoom bisa kamu mainkan jaraknua, tinggal putar-putar setelannya. Tapi, kalau aku lebih suka lensa macam punyamu. Hasilnya lebih bagus. Kaki kita juga olahraga.”

Selebihnya adalah menerjemahkan apa yang seharian dipaparkan oleh Pak Kas ke dalam praktik. Aku menghabiskan dua rol film hari itu. Puas rasanya.

Kamera memberi saluran bagi kegemaranku mengamati tekstur tanah, kulit pohon, liukan daun, dan warna bunga. Rasanya seperti mendapat sepasang mata baru. Dan lewat mata baruku itu, aku melukis cahaya di atas rol film.

***

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Supernova: Partikel at Penanak Nasi.

meta

%d bloggers like this: